Kapan “seperti biasa” jadi masalah?
A mixture of my own thoughts and ideas curated from the internet. When it is borrowed, the sources are named.
Seperti biasa hari ini kamu bangun siang jam 1 dilanjutkan dengan gosok gigi, main hp, dan makan. Tak lupa untuk selalu nonton Youtube seperti biasa.
Liat jam. Sudah jam 5, waktunya makan sore. Kamu ke meja makan, melihat makanan yang ibukmu masak seperti biasa. Bosen makan itu, kamu masak makanan yang biasa kamu masak. Atau kalau mager, kamu mesen gojek. Mesen apa ya??? Mungkin mi goreng yang biasa kamu makan bareng temen setiap pulang sekolah. Atau mungkin kamu mau makan makanan Mekdi, seperti biasa kamu pesen paket PaNas. Kamu mesen lebih biar bisa makan bareng keluarga, mumpung ada promo.
Selagi makan, seperti biasa kamu skroll Instagram. Tap” story orang. Isinya ucapan ulang tahun. Seperti biasa kamu bikin story juga dengan harapan disaat kamu ultah orang-orang bakalan bikin story buat kamu. Di antara ucapan-ucapan ulang tahun, ternyata usaha temen mu mulai laku. Kamu pikir kalau kamu mulai usaha sendiri mungkin bisa kayak dia. Seperti biasa kamu menghayal akan kemungkinan yang ada, andai saja kamu memulai.
Capek menghayal, akhirnya kamu memutuskan untuk memulai usaha menjual baju dengan desain kamu sendiri. Kamu mencari berbagai referensi di internet, dari brand lain.

gobert is sad
Eh, ternyata temen mu ada juga yang baru mulai jualan baju. Kamu lihat-lihat desain mereka dan ya.. lumayan lah.
Setelah planning kamu mulai mencoba desain dengan skill photoshop yang kamu sempat pelajarin waktu SMP dari tutorial Youtube. Desainnya selesai. Kamu bandingkan desainmu dengan desain temen yang jualan baju juga. Ternyata skill mu jauh dibawah dia.
Seperti biasa kamu patah semangat.
Kamu berpikir kamu tidak akan bisa menjadi lebih baik, hanya karena orang yang kamu kenal lebih baik daripada kamu.
Sekarang sudah jam 10 malem, sudah cukup untuk hari ini. Seperti biasa bukannya tidur, kamu overthinking mengenai kehidupan yang kamu jalani selama ini. Kamu tertidur selagi memikirkan hal itu.
Seperti biasa, keesokan harinya kamu bangun siang jam 1.
Kehidupan yang stagnan.