TAMAT SMA · 2021 05

Apa yang tersisa setelah tiga tahun SMA?

A mixture of my own thoughts and ideas curated from the internet. When it is borrowed, the sources are named.

Usai sudah masa SMA. 3 Tahun telah berlalu. Ternyata dalam 3 tahun terdapat banyak perubahan dari sikap, fisik, maupun cara pandang.

Dari 3 tahun 1,5 tahun terakhir terasa terambil. Karena Virus Corona yang membuat sekolah menjadi daring. 1,5 tahun yang seharusnya di sekolah malah direngut dan dipenjara di rumah. Padahal aku emang anak rumahan. Ga bisa deh liat temen temen di kelas.

Graduated

Walaupun begitu life goes on. Momen-momen memalukan/yang membuat kesal sebagian besar menjadi bahan tertawaan yang membuat rasa rindu menjadi-jadi. Kita sering kali menyesal akan hal hal yang tidak kita lakukan. Akan hal hal yang hati kita inginkan namun tidak berani untuk di wujudkan. Tentu saja, berada di zona nyaman tidak akan membawa perkembangan. Sekalipun anda gagal setidaknya anda bisa jadikan itu bahan lelucon saat di tongkrongan. Setidaknya anda mengerahkan 100% tenaga dan tidak ada kata “Seharusnya aku…..”

Jujur sebagai anak rumahan karena strict parent, aku masih merasa bahwa kekangan orang tua mencegah aku untuk menikmati hidup 100%. Namun walaupun begitu aku tetap bersyukur akan apa yang aku punya. Bittersweet. Namun biarlah.

Pelajaran dari masa SMA:

  1. Proaktif, baik dalam akademik sosial apapun. Proaktif berarti tidak menunggu perintah dari orang lain untuk bergerak. Lawan dari proaktif adalah reaktif dimana kita melakukan suatu hal murni sebagai reaksi terhadap suatu hal yg lain.

Contoh proaktif: tau akan ada masalah administrasi kita lebih dulu nyiapin uang buat jaga jaga. reaktif: setelah di marah bayar SPP baru buru” ngumpul uang.

Contoh lain yang sering aku liat pada masa SMA adalah dalam bidang sosial. Baik itu dalam memulai pembicaraan, memulai acara apalah. Saat memulai pembicaraan orang” lebih mudah untuk melanjutkan pembicaraan ketimbang memulai. Sehingga jika kita melempar topik apapun(asalkan dia tau garis vesar dan dia tertarik) maka pembicaraan dengan mudah akan berlanjut dengan sendirinya). Contoh lain adalah ketika mengajak untuk melakukan aktifitas apapun. Seperti bermain basket, awalnya aku sering diajak untuk bermain oleh teman ku dan lama kelamaan aku yang sering mengajak orang main basket.

Proaktif juga dapat dikatakan sebagai berada dalam kendali dalam menentukan pilihan mu yang bukan berdasarkan hasil reaksi terhadap suatu kejadian lain.

  1. Just do it. Hal yang kamu overthinking kan hari ini kemungkinan besar tidak akan terlintas dalam pikiran mu. Meskipun iya, aku yakin kamu akan menghargai diri mu yang melakukan hal tersebut meskipun overthinking.

Saat kita overthinking akan suatu hal kita menderita 2 kali. Yaitu saat memikirkan hal tersebut dan saat akan melakukan/menerima hal tersebut.

  1. Rindu Aku hanya bersenang-senang bersama teman. Tidak ku sangka akan berpisah secepat ini.
  2. Melakukan suatu hal dengan orang yang tepat lebih baik dari pada sendiri

N.B

Jujur sekarang masih ga nyangka udah lulus SMA.

Memori-memori yang paling berkesan mungkin ketika ngelawak bareng kelompok belajar biologi, bareng the boys. Setiap Sabtu ekstra walau jadi pengurus aku cuma main-main😂.

Benar sih kata orang, “Tidak ada yang namanya waktu yang tepat. Mending mulai aja dulu”

Memori-memori yang paling aku inget bukan disaat aku belajar bener” serius atau ketika lagi fokus dengerin omongan guru. Melainkan ketika sedang bergurau, berlagak bodoh, ngerasa takut untuk angkat tangan trus angkat tangan kemudian jawab trus salah 😂. Kek ketika aku mengesampingkan pikiran overthinking dan melakukan aksi jujur itu tidak seburuk yang aku pikirkan.

Go through the anxiety.

Mungkin hidup memang harus have fun di saat kini. Namun tetap memberi batasan antara having fun dan merusak masa depan.

Let’s Have a living spree

Diambil catatan-catatan ketika lagi bernostalgia pada tanggal 18 Mei 2021