Apa yang pandemi ajarkan tentang belajar?
A mixture of my own thoughts and ideas curated from the internet. When it is borrowed, the sources are named.
Pembelajaran di rumah tentu merupakan pengalaman baru bagi saya dan teman-teman saya. Walaupun pembelajaran secara online telah dilakukan sebelumnya, baik itu dari latihan soal online, ulangan online, atau pun absen online. Tetapi belum pernah dilakukan dalam skala sebesar ini (nasional bahkan internasional). Dengan adanya pembelajaran di rumah secara online, kita dipaksa untuk menggunakan teknologi yang telah ada. Sepertinya tidak lagi ada pilihan untuk menghiraukan efisiensi teknologi melalui penggunakan metode tradisional. Kita dipaksa untuk keluar dari “zona nyaman” atau rutinitas kita dan mencoba melakukan hal baru.
Pembelajaran dari rumah pada awalnya bisa dikatakan memberi jarak antara siswa dengan guru. Walaupun dengan teknologi yang kita miliki saat ini tentu tidak semua dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Terdapat beberapa metode yang dilakukan oleh guru-guru untuk mengatasi hal ini. Untuk pemberian tugas ada yang menggunakan Whattsapp, ada yang menggunakan Google Classroom, dan ada yang tidak menggunakan apa-apa… Untuk pemberian materi dapat menggunakaan Zoom atau pengiriman materi berupa dokumen. Semua metode-metode tersebut membantu mengatasai jarak antara siswa dengan guru. Tetapi tidak semua berjalan sesuai rencana. Menurut pengalaman saya, halangan paling umum pada pembelajaran online ini ialah masalah kuota dan memori.

Kuota dan memori bisa dikatakan sebagai senjata bukan hanya untuk pembelajaran online tetapi segala sesuatu yang bersifat online. Jika senjata anda tidak siap tentu anda akan kalah dalam pertarungan (pembelajaran) ini. Senjata pertama, Kuota. Mungkin ini tidak terlalu bermaslah bagi saya karena saya pengguna Ind*home. Tetapi bagi teman-teman lain yang tidak menggunakan wifi, masalah ini bisa sangat menyebakan.
Bayangkan sudah selesai membuat tugas, tinggal di upload. Eh kuota habis, ya terpaksa beli kuota. Syukur jika punya teman yang jual, kalo engga terpaksa keluar deh. Ga jadi deh #dirumahaja. Oke sekarang sudah punya kuota, tinggal uplod tapi kelewatan deadline. “Ya bodo amat dah, yang penting kumpul”. Senjata kedua, Memori. Selain untuk aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan, memori dibutuhkan untuk materi tugas yang akan dikumpulkan. Masalah ini mungkin tidak terlalu berdampak karena HP zaman sekarang setidaknya memiliki memori lebih dari 5 gb bahkan 1 tera. Namun tentu dari yang saya amati, memori yang penuh masih dipermasalahkan.
Walaupun pembelajaran dilakukan secara online melalui aplikasi, tetapi pengerjaan atau tugas yang diberikan dilakukan dengan cara seperti biasa yaitu tinta diatas kertas. Saya paham bahwa tidak semua pelajaran dapat dilakukan secara efektif pada aplikasi (seperti matematika, fisika, dan kimia yang memerlukan pengerjaan latihan secara berkala untuk memahami materi), dan memang tidak ada salahnya untuk melakukan tugas pada kertas. Namun, saya sebagai murid yang malas cukup terbebani oleh hal ini. Dikarenakan resume-resume dan ringkasan yang harus saya cukup melelahkan. Masalah ini dapat dihadapi dengan mudah, yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Selain kesusahan dan kemalangan yang saya alami diatas. Masalah tersebut mulai menghilang setelah minggu pertama. Setelah itu, kegiatan pembelajaran mulai berjalan seperti “normal”. Mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman mungkin sedikit menakutkan tetapi melalui proses inilah kita dapat maju sebagai individu dan menjadi lebih baik. Tedapat beberapa momen menyenangkan ketika menemukan kelemahan pada aplikasi yang menyenangkan. Seperti metode pengumpulan melalui Google Drive, dengan mudah orang-orang dapat mengakses dan mendownload hasil jawabanmu. Sehingga cukup download jawaban punya teman ganti nama, otak-atik sedikit jawaban terus upload. Atau disaat mengerjakan latihan soal, jika memang kesusahan cukup bertanya jawaban pada teman di kelas lain yang diajar oleh guru yang sama.
Masa pandemi ini memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi. Semua orang memiliki kesusahannya masing-masing.
*sebenarnya ini untuk tugas bahasa indonesia
Seperti yang dikatakan William Goldman, nobody knows anything.